top of page
Search

Kamu Merasa Tertinggal? Ini Tutorial Singkat Supaya Kamu Nggak Hilang Arah

Updated: 7 hours ago


Banyak sekali di antara kita yang mengalami tekanan karena teman-teman punya pencapaian luar biasa: nilai bagus, organisasi banyak, kepanitiaan aktif, magang di tempat terkenal, menang lomba, dan masih banyak lagi. Betul apa betul?


Citra positif yang diperlihatkan oleh orang lain, baik di media sosial maupun di dunia nyata, biasanya membuat kita melakukan perbandingan sosial. Ternyata, perbandingan sosial itu ada dua tipe yaitu perbandingan sosial kompetitif dan nonkompetitif  (Festinger, 1954; Suls et al., 2002; Yang & Robinson, 2018). Perbandingan sosial kompetitif menilai aku atau dia yang lebih unggul atau baik dengan mengevaluasi pencapaian dan kemampuan. Sedangkan perbandingan sosial non kompetitif menilai seberapa sama atau berbeda dalam bersikap, baik secara gaya, prinsip hidup, preferensi, dan lainnya.


Lambat laun kita jadi punya dorongan untuk membuat tujuan yang sama atau mirip dengan orang lain. Tujuannya (yang kadang kita gak sadar) adalah ekspektasi bahwa kita akan lebih diterima secara sosial dan kita punya ketakutan untuk mendapatkan evaluasi negatif kalau kita tidak seperti mereka.


Nah, sekarang, coba kita sedikit berefleksi, ya. Gimana kalau kamu punya pilihan untuk mencapai tujuan yang lebih besar yaitu merasakan hidup yang bermakna? Sebenarnya, belum ada definisi pasti mengenai apa itu “hidup bermakna”. Tapi mari kita permudah dengan hidup bermakna adalah hidup yang selaras dengan nilai. Dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy (ACT), nilai adalah keinginan terdalam tentang bagaimana kamu ingin menjalani hidup sebagai manusia; bagaimana kamu bertindak dalam memperlakukan diri sendiri dan orang lain (Harris, 2019). 


Nilai bisa dianalogikan sebagai kompas sedangkan tujuan adalah tempat yang ingin kamu datangi. Contoh, kamu mau jalan-jalan ke Blok M dan kamu punya opsi lewat Jakarta Selatan dan Tangerang Selatan karena kamu tinggal di Depok. Biasanya, kita akan melewati arah yang terdekat, cepat, dan aman (misalnya Jakarta Selatan). Akan tetapi, apakah boleh jika ada orang yang memilih untuk lewat Tangerang Selatan yang cenderung lebih jauh, lebih lama, tapi dia bisa melihat banyak sekali hidden gem (tempat tersembunyi tapi menarik) yang jarang ditemui? Jawabannya adalah boleh aja. Bagi orang yang menyukai eksplorasi tempat tidak biasa dan menikmati rasanya naik kendaraan umum jarang dinaiki merupakan preferensi yang dia inginkan. 

Kalian punya tujuan yang sama yaitu main di Blok M tetapi kalian punya nilai yang berbeda tentang bagaimana cara sampai ke Blok M. Bahkan kamu boleh untuk liburan ke Blok M meski orang lain ke UI karena kamu lebih menyukai tempat yang banyak makanan dan orang berkumpul di sana sedangkan orang lain menyukai tempat yang banyak hutan dan sejuk.


Berikut adalah contoh dari berbagai nilai yang sering kita temukan di kemudian sehari-hari. Semoga kamu lebih kebayang apa itu “nilai”.


sumber: simplish.co


Kalau kita bisa lihat, nilai biasanya dijelaskan dengan kata sifat/benda karena nilai merupakan suatu kualitas: kualitas kita dalam berperilaku.


Dor! Inget tadi kita bahas apa di awal? Yup, tentang gimana bandingin diri sendiri dengan orang lain. Sudah banyak daftar tujuan yang mau kamu capai di dalam hidup? Kalau sudah, coba bedah sedikit yuk.


1. Tentukan tujuanmu secara spesifik dan konkret. 

Boleh mulai dari yang mudah yaitu kegiatan di kehidupan perkuliahan. Contoh = Mau ikut organisasi BEM Fakultas pada divisi Pengabdian Masyarakat di semester 4.


2. Refleksi nilai personal apa yang difasilitasi oleh tujuan tersebut.

Ketika kita terpikirkan untuk suatu tujuan, biasanya ada nilai yang mengarahkan kita. Kalau kita sadar nilai kita apa, maka tujuan bisa lebih dari satu. Saat kita tidak bisa mencapai satu tujuan, kita bisa memiliki opsi lain yang sejalan dengan nilai tersebut.

Contoh = Divisi Pengabdian Masyarakat sejalan dengan nilaiku yaitu interaksi sosial, kontribusi, dan kerja sama. Apabila BEM Fakultas, kamu bisa ikut kegiatan sukarelawan yang diadakan suatu komunitas karena kegiatannya tetap sejalan dengan 3 nilai utama tadi.


3. Evaluasi kegiatan yang sudah kamu jalani.

Coba bayangin kamu jalani kegiatan yang sejalan dengan 3 nilai. Biasanya kita jadi merasa lebih siap menghadapi jatuh bangun dan tekanannya. Kamu rela kerjakan siang malam karena kamu mulai ngerasa hidup lebih bermakna. Jadi, hidup bermakna itu bukan hidup yang dipenuhi kebahagiaan tetapi hidup yang “worth” untuk diperjuangkan meski kamu harus nangis malam-malam ngerjain revisi proker atau belajar buat kuliah.


Artikel ini merupakan langkah awal untuk mengajak kamu mengenal bahwa kamu bisa melakukan sesuatu yang dipandu dengan nilai sehingga kamu merasa hidupmu lebih bermakna. Mungkin tidak semudah itu tapi mari kita coba melakukan kegiatan bukan atas dasar merasa tertinggal dari orang lain, tapi karena kamu “mau aja” ngelakuinnya.



Dibuat oleh: Carrenina Prilly Juaninda, M.Psi., Psikolog


Referensi:

Harris, R. (2019). ACT made simple: An easy-to-read primer on acceptance and commitment therapy. New Harbinger Publications. 

Yang, C. C., & Robinson, A. (2018). Not necessarily detrimental: Two social comparison orientations and their associations with social media use and college social adjustment. Computers in human behavior, 84, 49-57. 


 
 
 

Comments


Pelayanan Konseling Klinik Satelit UI

Gedung Klinik Satelit Makara UI Lt. 3

Jl. Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro (Depan Fakultas Teknik UI)

Jam Operasional : 08.00 - 16.00

Email: konseling.satelitmakara@gmail.com

Phone: 0852 1000 1514

Subscribe untuk Dapatkan Update Terbaru

© 2018Layanan Konseling Makara Universitas Indonesia

bottom of page