
“Apa ya resolusi semester ini?” adalah ucapan yang mungkin sering kita ucapkan dalam hati pada awal semester baru. Nilai yang lebih baik, ingin daftar organisasi bergengsi, magang di kantor tinggi di pusat Jakarta, menang lomba taraf nasional, terkadang menjadi target mahasiswa/i di semester baru. Biasanya di pembuka semester kita akan mengeluarkan usaha maksimal untuk mencapai resolusi yang diinginkan. Lalu, semangatnya memudar seiring waktu.
Kerap terjadi di perkuliahan, seseorang ingin meningkatkan nilai dengan mengerjakan tugas tepat waktu dan belajar secara rajin tiap harinya. Di awal, ia semangat untuk membuat ringkasan mata kuliah. Tetapi lambat laun, tidak membuat jadwal belajar dan hanya belajar ketika ujian sudah dekat, atau bahkan lebih memilih untuk tidak hadir di beberapa kelas dan berharap bisa mengejar ketertinggalan nanti.
Penentuan seseorang menjadi konsisten maupun tidak inkonsisten adalah kuat tidaknya komitmen dan alasan dibalik tujuan yang ingin diraih. Selain itu, perilaku inkonsisten muncul ketika seseorang ingin menyeimbangkan dua tujuan. Jika mereka memilih antara tujuan dan sumber daya (contoh: ingin self-reward, tapi juga ingin menghemat uang), mereka cenderung fokus pada satu hal, yaitu mencapai tujuan atau menghemat sumber daya. Namun, jika mereka memilih antara dua tujuan (seperti kesenangan dan kesehatan), mereka berusaha menyeimbangkan keduanya, yang dapat menyebabkan tindakan yang tidak konsisten.
“Lalu, bagaimana cara kita untuk mempertahankan semangat dan usaha kita?”
Membuat refleksi akan prioritas yang ingin diraih
Saat ingin mencapai resolusi yang kita inginkan, kita dapat menulis langkah-langkah tersebut dan mengidentifikasi perilaku apa yang sulit dilakukan dan cara untuk mengatasi hal tersebut. Misal, ketika ingin memenangkan sebuah lomba essay, setiap menunda untuk membaca jurnal, kita harus menabung sejumlah uang.
Membuat target yang realistis
Penting untuk membuat target yang realistis dalam tenggat waktu yang kita tentukan. Dengan resolusi yang realistis, kita akan lebih bisa membuat langkah-langkah yang spesifik untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.
Mendapatkan IPK 4,0 di setiap semester tanpa kegagalan atau nilai rendah adalah hal yang baik, tetapi dengan tidak memberikan ruang untuk kesalahan atau kegagalan bisa menjadi target yang tidak realistis karena terdapat faktor eksternal yang dapat mempengaruhi performa akademik. Sebaliknya, menjaga IPK di atas 3,5 dalam satu semester adalah target yang lebih realistis karena memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara konsisten, menghadapi tantangan yang mungkin muncul, dan masih menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi.
Small treat is fine!
Bekerja keras tidak berarti kita tidak berhak untuk beristirahat ataupun memberi penghargaan terhadap diri sendiri. Setelah melakukan langkah-langkah kecil dan dapat melihat progress yang positif, self-reward itu gapapa banget. Setelah mendapat nilai A pada suatu mata kuliah, kita dapat menghargai diri kita sendiri dengan makanan yang disukai. Dengan adanya self-reward, kita termotivasi untuk berusaha lebih keras lagi untuk meraih target.
Ketika sudah mulai goyah, ingat kembali alasan awal target yang ingin diraih
Ada masanya, di tengah jalan, kita merasa lelah dan mulai lengah dengan resolusi yang kita buat di awal. Di saat seperti itu, penting untuk kita mengingat kembali alasan awal untuk meraih tujuan; ingin menang kompetisi A untuk menambah pengalaman dan portofolio, ingin nilai lebih baik untuk membahagiakan orang tua, dan lain-lain. Kita dapat menulis alasan di post-it atau jurnal yang dapat kita baca dengan mudah agar bisa kembali bersemangat meraih target-target di semester baru.
Semoga di tahun yang baru ini, semangat teman-teman selalu membara untuk mencapai apapun yang diinginkan. Seperti yang dikatakan oleh salah satu presiden Amerika Serikat, “Nothing worth having comes easy”.
Penulis:
Azalea Astina Yutari, S.Psi.
Referensi:
Berkman E. T. (2018). The Neuroscience of Goals and Behavior Change. Consulting psychology journal, 70(1), 28–44. https://doi.org/10.1037/cpb0000094
Laran, J., & Janiszewski, C. (2009). Behavioral Consistency and Inconsistency in the Resolution of Goal Conflict. Journal of Consumer Research, 35(6), 967–984. doi:10.1086/593293
Comments