
Libur semester sudah berakhir, saatnya mulai kuliah lagi! Tapi kok, rasanya berat banget ya? Perasaan berat untuk kembali ke rutinitas yang kerap kita rasakan setelah liburan berakhir biasanya adalah perasaan-perasaan tidak menyenangkan seperti kesedihan, kesepian, kelelahan, kelesuan, ketakutan dan perubahan pada energi, fokus dan motivasi - atau yang biasa disebut sebagai post-holiday blues.
Apa sih, yang menyebabkan post-holiday blues?
Menurut Dr. Melissa Weinberg, seorang psikolog ahli kebahagiaan, perasaan sedih setelah liburan terjadi karena otak kita sedang beradaptasi kembali ke tingkat keberfungsian optimal (baseline sebelum liburan). Saat liburan, otak kita dibanjiri hormon bahagia seperti serotonin dan dopamin. Hormon-hormon ini membuat kita merasa senang, bersemangat, dan rileks. Namun, begitu liburan usai dan kita kembali ke rutinitas, produksi hormon bahagia ini cenderung menurun. Akibatnya, kita merasa sedih, lelah, dan demotivasi. Tapi, jangan khawatir, perasaan-perasaan tidak menyenangkan ini adalah reaksi normal otak kita terhadap perubahan dan bersifat sementara, kok!
Apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi post-holiday blues?
Mulai dengan yang mudah: Jangan memaksakan diri untuk langsung menyelesaikan tugas-tugas yang berat. Psikolog Dian Wisnuwardhani menyarankan agar kita memulai dengan pekerjaan yang lebih mudah dan ringan untuk membangkitkan motivasi.
Tingkatkan produksi hormon bahagia, motivasi dan energi:
- Berolahraga: Melakukan aktifitas fisik seperti berolahraga selama lebih dari 30 menit secara berkelanjutan dapat memicu hormon endorfin, yaitu hormon yang memberikan rasa tenang, kepercayaan diri, meningkatkan energi, mood dan kebahagiaan.
- Mendengarkan musik: Selain berolahraga, mendengarkan musik juga terbukti menyebabkan pelepasan hormon endorfin ke aliran darah yang dapat meningkatkan mood dan melindungi kita dari stress.
- Makan makanan bergizi: Makanan yang kita konsumsi tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental kita. Penelitian secara luas menunjukkan bahwa produksi neurotransmiter serotonin, dopamin, dan norepinefrin yang mengatur mood, emosi dan pola tidur kita sangat dipengaruhi oleh makanan yang kita konsumsi. Beberapa kandungan penting dalam makanan yang berhubungan sangat erat dengan kebahagiaan yang telah dikaji secara mendalam adalah asam lemak omega-3, karbohidrat kompleks dan mikrobioma. Komponen-komponen tersebut dapat ditemukan di makanan seperti ikan kembung, ikan salmon, kacang kedelai, sayur-sayuran, buah-buahan, gandum dan makanan fermentasi seperti yogurt. Sebaliknya, makanan olahan dan bergula tinggi seperti sereal tinggi gula, makanan kaleng, sosis, keripik kentang dan minuman berenergi secara konsisten dikaitkan dengan mood yang negatif - jadi sebaiknya tidak dikonsumsi dalam jumlah yang besar.
Tidur yang cukup: Kekurangan tidur dapat menyebabkan kelelahan fisik serta ketidakstabilan emosional yang membuat seseorang lebih mudah marah. Kurang tidur juga berhubungan secara langsung dengan penurunan energi, rasa percaya diri, fungsi kognitif, peningkatan impulsivitas, gangguan memori dan kecemasan. Agar tidak memperparah efek post-holiday blues, tidur yang cukup menjadi sangat penting.
Dengan beberapa tips sederhana ini, kamu dapat mengatasi perasaan sedih dan kembali menjalani rutinitas kamu dengan lebih bersemangat! Post-holiday blues biasa hanya berlangsung selama beberapa hari sebelum semuanya terasa normal kembali. Namun, jika kamu merasakan gejala post-holiday blues yang berlarut hingga dua minggu, segera cari bantuan ke psikolog, ya.
Penulis: Sona Jesmin Merlin, BPsychScB (Psy) (Hons)
Referensi:
Azalila, N. (2024, April 14). Kata Psikolog Soal Post holiday blues, Perasaan Sedih saatLiburan Usai. detikHealth. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7292276/kata-psikolog-soal-post-holiday-blues-perasaan-sedih-saat-liburan-usai
Khawaja, U., Wasim, M. A., & Abid, F. (2023). Association between poor sleep hygiene practices, sleep deprivation, and their effects on medical students of Karachi: A cross sectional study. Journal of Contemporary Studies in Epidemiology and Public Health 2023, 4(1). https://doi.org/10.29333/jconseph/13004
Kusumastuti, R. A. (2023, April 30). Mengenal Apa ITU Post holiday blues, Gejala, Dan Cara Mengatasinya. KOMPAS.com. https://health.kompas.com/read/23D30170000968/mengenal-apa-itu-post-holiday-blues-gejala-dan-cara-mengatasinya
Rokade, P. B (2011). Release of Endomorphin Hormone and Its Effects on Our Body and Moods: A Review. International Conference on Chemical, Biological and Environment Sciences (ICCEBS'2011), 436-438.
Sandua, D. (2023). The happiness diet: Food and its influence on mood David Sandua. David Sandua.
Savero, N., Ismah, S. Q., Tharafa, G. F., Pawestri, R. V., & Herawati, L. (2023). Faktor-Faktor yang Berkaitan dengan Prevalensi Kurang Tidur pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Jurnal Analis, 2(2), 145-153.
Weinberg, Dr. M. (2022, November 23). Why it’s normal to feel post-holiday blues. this. https://this.deakin.edu.au/self-improvement/why-its-normal-to-feel-post-holiday-blues
コメント