top of page
Search

Setiap Nyawa Berharga!

Writer: konselingmakarauikonselingmakaraui



Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2019, tercatat ada 703.000 orang yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Sementara pada data Kepolisian RI (dalam Arlinta, 2023) menunjukkan, terdapat 750 kasus bunuh diri pada tahun 2021. Jumlah ini meningkat 11% dari 671 kasus bunuh diri yang tercatat pada tahun 2020. Lalu, pada tahun 2023 pun kasus bunuh diri di Indonesia dilaporkan meningkat. Setidaknya, pada bulan Januari-Agustus 2023 terdapat 866 kasus bunuh diri. Jumlah ini lebih besar dibandingkan data tahun 2022 pada periode yang sama, dimana tercatat sebanyak 566 kasus.


Dalam jurnal terbaru yang diterbitkan di The Lance Regional Health-Southeast Asia pada 26 Februari 2024 disampaikan, sebanyak 859,10% kasus bunuh diri di Indonesia tidak terlaporkan (underreporting). Jurnal tersebut ditulis oleh Sandersan Onie, dkk. dengan judul ”Profil Statistik Bunuh Diri Pertama di Indonesia: Analisis Tingkat Bunuh Diri dan Upaya Percobaan Bunuh Diri, Pelaporan yang Tidak Memadai, Distribusi Geografis, Gender, Metode, dan Pedesaan”. Sehingga, data yang sebelumnya disampaikan bisa jadi lebih kecil dari jumlah yang terjadi sebenarnya. Tentunya ini adalah situasi yang tidak kita harapkan, karena setiap nyawa berharga.

 

Jika kamu memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri, berikut adalah beberapa hal yang dapat kamu lakukan:

  1. Distraksi : Alihkan perhatian dari keinginan melukai diri dengan melakukan aktivitas lain

  2. Ekspresikan emosi : Luapkan perasaan dengan menuliskannya di jurnal, menangis, berteriak, atau berbicara dengan orang yang dapat dipercaya

  3. Lindungi diri: Jauhkan diri dari benda yang berbahaya dan dapat melukai diri sendiri maupun orang lain

  4. Redakan gejala fisik: Atasi gejala fisik yang dirasakan dengan melakukan teknik tertentu. Misalnya, meredakan jantung berdebar dengan melakukan teknik pernapasan

  5. Kenali pola diri: Kenali pemicu perilaku melukai diri, agar dapat mencegahnya

  6. Mencari support system: Temukan dukungan dari keluarga, teman, atau orang lain yang dapat dipercaya

 

Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika orang terdekatmu menunjukkan tanda bahwa ia memiliki pikiran untuk  bunuh diri?

Beberapa tanda yang biasanya dimunculkan oleh seseorang yang memiliki pikiran untuk bunuh diri, antara lain:

  • Adanya perubahan perilaku yang muncul setelah mengalami stres hebat / tekanan hidup

  • Muncul kata-kata hopeless (pasrah/tidak berguna), seperti, ’’lebih baik aku tidak dilahirkan’’

  • Membenci dan menghujat diri sendiri

  • Menarik diri dari keluarga, teman, atau sahabat

  • Merasa dirinya adalah beban bagi orang lain

  • Mengabaikan keselamatan dan kesehatan diri, seperti tidak berhati-hati dalam berkendara, melukai diri sendiri, atau mengonsumsi alkohol berlebihan


Jika kita melihat tanda-tanda ini muncul pada orang terdekat atau orang-orang yang ada disekitar kita, apa yang bisa kita lakukan?

  • Tanyakan, apakah dia memiliki pemikiran untuk bunuh diri? Berikan dia kesempatan untuk bercerita apa yang terjadi dari sudut pandangnya

  • Jika menjawab iya, maka jauhkan dia dari benda-benda yang berbahaya atau dapat digunakan untuk menyakiti diri

  • Tanyakan siapa orang-orang yang dia percaya untuk bercerita dan dia rasa memberikannya dukungan. Bentuk support system untuknya

  • Dekatkan dia dengan support system-nya

  • Rekomendasikan dia untuk menghubungi pihak profesional (psikolog/psikiater)

 

Stigmatisasi terhadap orang bunuh diri juga perlu dipupus, baik dari lingkup keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, maupun negara. Stigmatisasi justru menghambat pencegahan bunuh diri karena membuat mereka yang sedang menghadapi masalah enggan mencari pertolongan.

 

Daftar Pustaka:

Arlinta, D. (2023). Bunuh diri bisa dicegah: Sensitivitas pada keinginan bunuh diri perlu ditingkatkan. Kompas. https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/09/12/bunuh-diri-bisa-dicegah-sensitivitas-pada-keinginan-bunuh-diri-perlu-ditingkatkan?open_from=Section_Artikel_Terkait


Onie, S., Usman, Y., Widyastuti, R., Lusiana, M., Angkasawati, T. J., Musadad, D. A., Nilam, J., Vina, A., Kamsurya, R., Batterham, P., Arya, V., Pirkis, J., & Larsen, M. (2024). Indonesia's first suicide statistics profile: an analysis of suicide and attempt rates, underreporting, geographic distribution, gender, method, and rurality. The Lancet regional health. Southeast Asia22, 100368. https://doi.org/10.1016/j.lansea.2024.100368


@cpmhugm. (2023,November 7). Pertolongan Pertama Pada: Non-Suicidal Self Injury (NSSI). Instagram. https://www.instagram.com/p/CzV6vETSt4E/?igsh=MWswdXBvZ2VncW1vcA==

 


Penulis: Dewinta Larasati Paramitha M.Psi., Psikolog

 
 
 

Comments


Pelayanan Konseling Klinik Satelit UI

Gedung Klinik Satelit Makara UI Lt. 3

Jl. Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro (Depan Fakultas Teknik UI)

Jam Operasional : 08.00 - 16.00

Email: konseling.satelitmakara@gmail.com

Phone: 0852 1000 1514

Subscribe untuk Dapatkan Update Terbaru

© 2018Layanan Konseling Makara Universitas Indonesia

bottom of page